Senin, 28 November 2022
Peristiwa Daerah

Mitologi Masyarakat Jawa dan Kaitannya dengan Upaya Mitigasi Bencana di Masa Lampau

profile
Ikhwan

15 Oktober 2022 19:18

387 dilihat
Mitologi Masyarakat Jawa dan Kaitannya dengan Upaya Mitigasi Bencana di Masa Lampau
Peta Pulau Jawa

BANYUWANGI - Berbagai kisah mitologi dan legenda berkembang luas di tengah kebudayaan masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Pulau Jawa. 

Berbagai tokoh yang dianggap seram dan disakralkan lahir ditengah pergolakan pemikiran masyarakat dari waktu ke waktu. 

Tak sedikit masyarakat yang masih meyakini berbagai mitologi itu hingga era moderen ini.

Salah satu sosok mitologi yang cukup familiar dikalangan masyarakat Jawa khususnya Banyuwangi adalah sosok Nyi Roro Kidul.

Dalam berbagai kisah legenda yang tersebar, Nyi Roro Kidul dijelaskan sebagai sosok perempuan cantik yang diyakini menjadi Penguasa Pantai Selatan. 

Perawakannya ayu, bergaun hijau pekat, mengenakan mahkota anggun, memiliki banyak prajurit dan suka menaiki kereta kencana khas bangsawan kerajaan.

Bila terjadi sebuah tragedi atau bencana di laut selatan, sosok ini kerab kali dikait-kaitkan. Biasanya masyarakat menyebut bencana yang terjadi adalah buah dari kemarahan Sang Ratu.

Ketua Harian Geopark Ijen, Abdillah Baraas menyebut bila mitologi Ratu Kidul itu lahir pada tahun 1600 an. Dimana pada tahun itu di wilayah Jawa terjadi sebuah tsunami dahsyat yang memporak-porandakan sisi selatan Jawa.

Dalam pandangannya mitologi itu tercipta sebagai upaya untuk membangun kesadaran mitigasi bencana pasca terjadinya tsunami besar tersebut.

Diketahui bahwa kawasan Nusantara diapit oleh Lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. 

Bagi dia, lahirnya mitologi itu adalah untuk membawa sebuah gerakan untuk memobilisasi agar masyarakat tidak lagi bermukim di area yang terlalu dekat dengan bibir pantai. Mengingat resiko kebencanaan di sisi selatan Jawa yang terlampau besar.

"Ada banyak mitologi, seperti dijelaskan pada kitab pararaton, penjelasannya dibuat tembang, tari agar mudah dipahami oleh masyarakat. Orang dulu sudah pandai dalam membuat kegiatan mitigasi namun berbasis pengetahuan lokal dan disversifikasinya jelas kala itu tidak semua orang bisa paham ketika dijelaskan secara gamblang. Semua dibuat untuk memudahkan agar cepat dipahami," kata Abdillah, Sabtu (15/10/2022).

Selain Nyi Roro Kidul, sosok mitologi lain yang kental dengan masyarakat Jawa adalah sosok Eyang Semar. Salah satu karakter dalam tokoh pewayangan yang penokohan karakternya diteladani oleh masyarakat Jawa.

Sosoknya digambarkan memiliki perawakan kakek tua bertubuh tambun dengan ciri khas rambutnya yang dikuncir lancip atau kuncung. Ada banyak versi tentang asal usul tokoh ini. Namun semua menyebut Semar adalah penjelmaan dari Dewa.

Dalam catatan sejarah, ketika terjadi gunung berapi di Jawa meletus visualisasi sosok Eyang Semar kerab kali muncul. Visualisasinya lahir dari gugusan asap hasil dari erupsi.

Dalam catatan sejarah, terakhir gugusan asap erupsi yang membentuk visualisasi Eyang Semar yakni saat letusan Gunung Merapi, Jawa Tengah pada Maret 2020 lalu.

Namun penampakan Eyang Semar ternyata juga pernah muncul di Banyuwangi. Tepatnya saat erupsi dahsyat Gunung Raung pada tahun 1593.

Kala itu, masyarakat menyebutnya  'Eyang Semar nendang Pucuk Raung'. Menurut Abdillah erupsi yang terjadi pada tahun itu memanglah dahsyat menyebabkan langit di kawasan lingkar cincin Raung gelap gulita selama 8 hari 8 malam. Bahkan dampaknya juga terasa hingga belahan bumi Eropa.

"Pasca erupsi di tahun 1593 pucuk dari Gunung Raung hilang. Kala itu letusan sangat dahsyat, dampaknya selama tiga tahun dunia mengalami pendinginan global. Sungai di Inggris membeku. Rusia mengalami gagal panen gandum karena cahaya matahari tidak bersinar secara maksimal di wilayah itu," ujar Abdillah.

Ternyata perwujudan hilangnya pucuk Gunung Raung dan munculnya Eyang Semar itu bisa dijelaskan secara ilmiah. 

Abdillah menyebut itu adalah gugusan awan hasil letusan Plinian. Ditandai dengan semburan gas vulkanik dan abu vulkanik yang menyembur tinggi hingga stratosfer, suatu lapisan atmosfer yang sangat tinggi. 

Karakteristik utamanya adalah pemancaran batu apung dalam jumlah besar dan letusan letusan gas yang sangat kuat dan berlangsung lama.

Letusan pendek dapat berakhir kurang dari sehari, tetapi letusan panjang dapat mencapai beberapa bulan. Letusan panjang bermula dari pembentukan awan abu vulkanik, kadang-kadang disertai aliran piroklastik. Jumlah magma yang dikeluarkan sangat banyak sehingga puncak gunung mungkin runtuh, menghasilkan sebuah kaldera. Abu halus dapat menyebar hingga area yang sangat luas. 

"Secara visual awan panas yang keluar saat letusan Plinian itu menyerupai Semar. Jumlah magma yang dikeluarkan sangat banyak sehingga puncak gunung mungkin runtuh, itulah yang melahirkan istilah Semar Nendang Pucuk Raung," tandasnya.

Publisher : Syahrul

Tags
Anda Sedang Membaca:

Mitologi Masyarakat Jawa dan Kaitannya dengan Upaya Mitigasi Bencana di Masa Lampau

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT