Minggu, 02 Oktober 2022
Peristiwa Daerah

Ungkap Kasus Pencabulan, Polres Ngawi Amankan Oknum Guru Spiritual

profile
Andy

27 Juli 2022 19:55

580 dilihat
Ungkap Kasus Pencabulan, Polres Ngawi Amankan Oknum Guru Spiritual
Konferensi pers di Polres Ngawi. (SJP)

NGAWI  - Seorang gadis di bawah umur sebut saja Bunga menjadi korban aksi bejat oleh seorang pria warga Desa Beran Kecamatan dan Kabupaten Ngawi yang mengaku sebagai ahli spiritual.

Dalam aksinya, tersangka JKI (46) yang hanya berpendidikan hingga Sekolah Dasar berdalih kepada keluarga korban hendak membersihkan diri dari aura negatif serta hendak membai'at korban agar selamat dari segala gangguan makhluk halus.

Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Kapolres Ngawi AKBP Dwiasi Wiyatputera, SH, SIK, MH ketika menggelar konferensi pers di Mapolsek Ngawi Kota terkait mengungkapkan kasus pencabulan anak di bawah umur kemarin, Selasa (26/7).

Menurut AKBP Dwiasi Wiyatputera, dalam aksinya, tersangka JKI menggunakan bujuk rayu dan ancaman terhadap korban serta menggunakan agama sebagai kedok agar korban percaya dan mau disetubuhi oleh tersangka tanpa perlawanan.

"Tersangka JKI merupakan orang kepercayaan keluarga korban dan sudah dianggap sebagai guru spiritual keluarga korban," ungkap AKBP Dwiasi Wiyatputera dihadapan awak media.

AKBP Dwiasi Wiyatputera mengatakan, dalam pengakuannya tersangka JKI mulai mengenal korban pada awal Februari 2020 karena keluarga korban sering meminta bantuan tersangka untuk pengobatan alternatif dan gangguan ghaib yang dialami keluarga korban.

"Pada saat itu ayah korban menderita sakit dan setelah diobati dengan cara alternatif oleh tersangka, ayah korban mulai sembuh. Semenjak saat itu korban dan tersangka mulai akrab dan korban sudah menemukan tersangka sebagai bapaknya sendiri," terang AKBP Dwiasi Wiyatputera.

AKBP Dwiasi Wiyatputera menambahkan, hingga pada bulan Juni 2020 pukul 23.00 WIB tersangka datang ke rumah korban dengan tujuan untuk memberikan amalan kepada bapak dan Ibu korban yang harus diamalkan di luar rumah, karena sudah percaya dengan tersangka maka bapak dan ibu korban menurut semua perintah tersangka dan meninggalkan korban sendiri di rumah bersama tersangka. 

Pada saat Anda menduga aksinya dengan memasuki kamar korban, kemudian membujuk korban dan mengatakan akan membersihkan aura negatif di tubuh korban dengan persiapan korban harus melepaskan semua pakaian dan menuruti semua permintaan dari tersangka," ujar AKBP Dwiasi Wiyatputera.

Selain itu, AKBP Dwiasi Wiyatputera menyebut, tersangka juga menyumpah korban akan selalu menuruti semua kemauan tersangka tanpa ada perlawanan dan tidak boleh menceritakan kepada siapa pun tentang perbuatan tersangka kepada korban tersebut.

"Tersangka mengancam, apabila korban melanggar maka korban akan celaka dan akan menemui kematian. Karena ketakutan akan korban menurut semua pelaku pelaku bahkan saat tersangka menyetubuhi korban untuk pertama kali di rumah korban tersebut," jelas AKBP Dwiasi Wiyatputera.

Setelah kejadian pertama tersebut, AKBP Dwiasi Wiyatputera melanjutkan, tersangka merasa ketagihan sehingga berulang berulang kali korban dengan dalih dan alasan yang sama yaitu berusaha membersihkan diri korban sampai
perbuatan tersebut berjalan kurang lebih 2 tahun sehingga korban mengalami kehamilan dengan usia kehamilan kurang lebih 5 bulan .

"Tersangka menyetubuhi korban pertama kali saat usia korban masih 17 tahun dan hal tersebut terus dilakukan secara terus menerus dan berulang kali sampai saat ini korban berusia 19 tahun dengan total persetebuhan kurang lebih 200 kali selama kurun waktu tersebut," ucap AKBP Dwiasi Wiyatputera.

Masih menurut AKBP Dwiasi Wiyatputera, korban selama ini tidak menceritakan kejadian yang dialaminya karena takut akan ancaman tersangka, hingga setelah korban hamil selanjutnya menceritakan semuanya kepada orang tua korban dan kejadian tersebut selanjutnya dilaporkan ke Polsek Ngawi guna proses lebih lanjut.

Lebih lanjut, AKBP Dwiasi Wiyatputera menjelaskan, dari hasil pendalaman penyidik ​​Polsek Ngawi, dugaan penyimpangan tersangka tersebut juga dilakukan kepada puluhan anak di bawah umur, namun hingga saat ini belum ada korban lain yang melapor ke Polri.

"Untuk itu Satreskrim Ngawi membuka Hotline khusus pusat pengaduan kasus pencabulan sehingga dapat segera tertangani, dengan nomor 085161847080," tandas AKBP Dwiasi Wiyatputera.

Untuk tindak lanjut berikutnya dalam upaya pencegahan maraknya kejadian persetubuhan anak, Kapolres Dwiasi Wiyatputera menegaskan, akan membentuk Satgas perlindungan perempuan dan anak untuk mencegah dan menangani maraknya kasus pencabulan dengan melibatkan unsur Polri dan pihak terkait seperti Kejaksaan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan dan Dinas PPA Kabupaten Ngawi.

"Saya mengajak kepada seluruh masyarakat Ngawi untuk bersama sama acara pencabulan terhadap anak," tutupnya orang nomor satu di Polres Ngawi ini.

Atas perbuatannya, Penyidik ​​Polsek Ngawi mengirakan tersangka JKI dengan Pasal 76D Jo 81 atau Pasal 76E Jo pasal 82 UURI No. 17 tahun 2016 tentang Penetapan Perpu No. 1 tahun 2016 tentang perubahan.

Kedua, atas UURI No.23 tahun 2002 tentang perlindungan anak menjadi undang- undang. Pasal 76D : "Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain".

Pasal 76E : "Setiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan ketertarikan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan melakukan perbuatan cabul.

Tersangka JKI diancam hukuman, sanksi berupa pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,- (lima miliar rupiah). (Andy)

Editor: Doi Nuri 

Tags
Anda Sedang Membaca:

Ungkap Kasus Pencabulan, Polres Ngawi Amankan Oknum Guru Spiritual

Share

APA REAKSI ANDA?

0 Sangat Suka

0 Suka

0 Tertawa

0 Flat

0 Sedih

0 Marah

ADVERTISEMENT